Sang fajar datang ketika mentari terbit dari ufuk timur, aku melihat bayanganmu semakin semu dan semakin menjauh dari pandaganku,pergi semakin jauh meninggalkanku sendiri disini
. Apakah ini pertanda aku akan kehilanganmu, apakah dirimu takkan lagi bersamaku lagi?
"Cha,kamu gak berangkat sekolah?" sapa ayah yang melihatku tertunduk lesu di depan teras rumah.
" Bentar lagi." Aku membalikkan badan memainkan ras gendongku untuk menyembunyikan apa yang aku rasakan agar ayah tidak merasa ada yang salah denganku.
"Berangkat gih sana, kamu kebiasaan ya berangkat sekolah berpatokan sama jam," sambung saudara perempuanku yang sibuk memasang sepatunya.
"Kerjaannya bengong tiap pagi" lanjutnya lagi.
"Iya deh iya, aku berangkat." Aku mengalihkan pandangan dan melangkah pergi.
Sudah lebih dari 2 tahun ini aku menjadi anak SMA dan bagiku tak ada waktu untuk bermain dengan perasaan bernama cinta. Pengalaman tak menyenangkan dengan seorang pria yang sama sekali tidak mempunyai hati. Dadaku sesak saat ia meminta mengakhiri semuanya,ucapannya tak sesuai dengan apa yang ia yakinkan saat menyatakan perasaanya dulu. Aku menyesal sudah mempercayai ucapan busuknya.
Memang tak mudah untuk melupakan, sangat sulit. Terlebih jika ia harus sekelas denganku.muak rasanya jika harus bertemu setiap hari dengannya. Anehnya setelah ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya,ia mulai berubah, tatapan sinis di setiap aku menoleh ke arahnya terpancar di wajah yang sinis,semacam ada rasa benci yang mulai tertanam.
. Aku tak langsung membalas perlakuannya ,butuh waktu untuk menanyakannya. Tapi tidak untuk dia,mungkin orang lain.
Seorang laki-laki dengan rambut klimis di setiap belahan rambutnya berjalan ke arahku dari ujung sebuah kolidor saat aku berjalan menuju kelas.
“Ichaaa,” teriaknya berlari kecil.
Aku setengah menoleh.
“Cha,aku pengen ngomong nih,” ucapnya dengan nafas terengah-engah
“Ngomong aja kali,” jawabku
“ Sebelumnya maaf ya, kemarin aku liat kamu di cafe sama Renaldi, nah di belakang kamu ada Fajrin.” Ia tampak sedikit tertunduk.
“ Lah terus kenapa?” Aku penasaran dengan ucapannya.
“Kamu kan udah putus tuh sama si Fajrin, nah kemarin aku ngajak bercanda dia, aku bilang itu cowok baru kamu. Setelah aku ngomong gitu dia langsung pergi, “ ungkapnya serius menatapku.
“Tapi bener deh aku cuma bercanda doang kok, Cha. Kamu sama Fajrin akur kan?” Lanjutnya lagi dengan kepala tertunduk.
Aku mencoba memahami perkataan anak ini, apa karna ini Fajrin menjadi dingin terhadapku? Jika iya, aku harus segera menemuinya untuk menjelaskan bahwa ini tidak seperti yang Fajrin pikirkan tentangku.
"GILA!" Hatiku mulai memanas namun secepat aku tahan melihat mukanya yang memelas beraturan.
Selepas dari kantin yang akan berakhir sebentar lagi, aku mencari Fajrin dan ia tengah berada di kelas membaca novel sebagai makan siangnya.hanya kami berdua pada saat itu,selebihnya tengah asik menghabiskan waktu di kantin.
“Fajrin, aku boleh gak duduk disini. " Aku mendekatinya,ada campur aduk mendadak menghampiriku, takut dan malu padanya.
Fajrin menarik nafas panjang,seperti berat untuk mempersilahkan aku duduk dengannya,
"Iya, silakan," ucapnya singkat.
Keadaan sunyi, aku tak tau caranya membujuk orang untuk mempercayai ucapanku dan aku bukanlah orang yang senang berdebat. Fajrin masih dengan novelnya, halaman setebal 300 hampir diselesaikannya.
“Fajrin,kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu sinis banget.“ Nada lirih berharap Fajrin akan merespon ucapanku ini.
Fajrin terdiam sejenak lalu menutup setengah kasar novel yang ia baca,ia kini menatapku.
“ Kamu gak perlu ya ngumbar kemesraan kamu, gak perlu. Aku sama sekali gak cemburu!” ucapnya menahan emosi yang sedang meluap.
Aku menggeleng cepat,
”Bukan, kamu udah salah paham. Itu gak seperti apa yang kamu liat, aku sama Renaldi Cuma temenan doang kok gak lebih. Dia cerita masalah keluarganya. Bebannya akan terasa lebih ringan jika dibagi dengan orang lain." Aku terdiam tak bisa berbicara banyak melihat sikap Fajrin padaku.
“Aku gak suka kamu deket sama cowok lain apapun alasannya, kamu pengen balas dendam dengan cara memanaskan keadaan, hanya karena aku udah putusin kamu?” Amarahnya semakin meningkat dengan tatapan yang sangat bengis.
Emosiku memuncak melihat keangkuhannya.“Dan kenapa kamu marah kalo aku deket sama cowok lain? Kita kan udah gak ada hubungan apa-apa. Kamu gak berhak ya ngatur-ngatur aku.” Aku mencoba membela diri.
Fajrin membisu. Mungkin memikirkarkan jawaban yang tepat untuk di utarakan. Sebenarnya apa yang Fajrin pikirkan? Dia sudah mengakhiri hubungan denganku, jauh dari masalah ini, dengan alasan ia ingin tetap fokus untuk sekolahnya.
Aku menerima keputusannya, namun kenapa dia seperti marah padaku saat tau aku dekat dengan orang lain.
“Kenapa sih,Cha.Kamu gak pernah ngerti perasaan aku?” Fajrin melangkah keluar kelas dengan tergesa-gesa.
Fajrin benar-benar berubah, ia bukan Fajrin yang aku kenal. Ejekan dari para penghuni kelas tentang kerenggangan hubungan kami pun meledak di setiap harinya, selalu di jadikan bulan-bulanan saat berkelompok bersama.
Keesokan harinya
Hujan membasahi kota, pagi ini rintik hujan datang dengan sendirinya tanpa ada pertanda, cuaca yang dingin membuatku tidak ingin beranjak dari tempat berdiri saat ini. Aku menunggu angkutan umum, biasanya di antar oleh Ayah namun saat ini Ayah sedang ada di luar kota,jadi aku lebih memilih untuk naik angkot saja daripada harus dengan kak Clara. Aku tak mau merepotkannya saat ia harus sibuk mempersiapkan skripsi.
Lama menunggu,tak ada angkot yang lewat. Rasa cemas mendadak memuncak,sepertinya pintu masuk sekolah akan segera di tutup. “Kemana para Angkot Ini?” Aku bergumam.
“Mau bareng?” Fajrin memasang muka datar dengan sepedanya yang masih menyala. Entah dari mana manusia ini muncul dan mengetahui letakku di sini.
Tak ingin menerima tawarannya beruntung saja sebuah Angkot melaju pelan ke arahku, “Nggak, makasih” Aku menolak ajakan Fajrin dan masuk ke dalam angkot.
Alisku menggerutu, kanan kiri tersambung, tak suka rasanya dengan sikap Fajrin tadi. Menawarkan bantuan dengan terpaksa dan muka yang masam. Jika tak ingin menolong, ya sudah. Tak perlu bersikap ramah. Lagi pula Aku sama sekali tak butuh dengan tawarannya itu.
“Kenapa sih,Cha.Kamu gak pernah ngerti perasaan aku?” Fajrin melangkah keluar kelas dengan tergesa-gesa.
Fajrin benar-benar berubah, ia bukan Fajrin yang aku kenal. Ejekan dari para penghuni kelas tentang kerenggangan hubungan kami pun meledak di setiap harinya, selalu di jadikan bulan-bulanan saat berkelompok bersama.
Keesokan harinya
Hujan membasahi kota, pagi ini rintik hujan datang dengan sendirinya tanpa ada pertanda, cuaca yang dingin membuatku tidak ingin beranjak dari tempat berdiri saat ini. Aku menunggu angkutan umum, biasanya di antar oleh Ayah namun saat ini Ayah sedang ada di luar kota,jadi aku lebih memilih untuk naik angkot saja daripada harus dengan kak Clara. Aku tak mau merepotkannya saat ia harus sibuk mempersiapkan skripsi.
Lama menunggu,tak ada angkot yang lewat. Rasa cemas mendadak memuncak,sepertinya pintu masuk sekolah akan segera di tutup. “Kemana para Angkot Ini?” Aku bergumam.
“Mau bareng?” Fajrin memasang muka datar dengan sepedanya yang masih menyala. Entah dari mana manusia ini muncul dan mengetahui letakku di sini.
Tak ingin menerima tawarannya beruntung saja sebuah Angkot melaju pelan ke arahku, “Nggak, makasih” Aku menolak ajakan Fajrin dan masuk ke dalam angkot.
Alisku menggerutu, kanan kiri tersambung, tak suka rasanya dengan sikap Fajrin tadi. Menawarkan bantuan dengan terpaksa dan muka yang masam. Jika tak ingin menolong, ya sudah. Tak perlu bersikap ramah. Lagi pula Aku sama sekali tak butuh dengan tawarannya itu.
Jam ke 5 adalah bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia,sepertinya Ibu Ita tidak akan masuk karena ia masih di Bandung untuk menemani anak buahnya mengikuti lomba puisi. Tentu saja keadaan kelas akan ramai tanpa kehadiran seorang guru pengajar.
Mengerjakan tugas matematika adalah salah satu cara menghabiskan waktu jam kosongku hari ini, daripada harus berkumpul dengan penggosip kelas.
Fajrin dengan novelnya, kali ini bukan novel yang pernah aku liat, itu novel baru, tak banyak waktu untuk menyelesaikan novelnya. Fajrin memang suka membaca novel, terlebih jika berbau misteri urban. Aku dan dirinya duduk bersebelahan dengan di skat oleh jalan sehingga untuk melihat ke arah barat saja rasanya membosankan, harus berhadapan dengan muka masam Fajrin.
“Cielah Fajrin sama Icha sama-sama sibuk,” ucap seorang perempuan berbaju ketat namun rapi dengan gincu tipis di bibirnya.
Seluruh penghuni kelas saling berpandangan satu sama lain mencoba merangkai kata untuk diutarakan kepadaku dan Fajrin. Semua terfokuskan hanya pada dua objek dengan celaan yang siap meluncur di mulut penggosip yang siap meramaikan suasana. Dialah yang duduk di atas meja dengan kaki di gerak-gerakkan, sumber keghibahan berasal.
"Habis putus langsung musuhan, heran deh sama anak sekarang," jawab perempuan yang muka borosnya sangat kelihatan, ia memakai baju yang sengaja di keluarkan.
“Udah lah, kalian akur aja deh. jangan musuhan. Gak baik memutuskan tali silaturrahmi, dosa loh,” sambung anak lainnya diiringi senyum ejekan.
“Iya tuh bener, lebih baik juga mending balikan gih. Kalian cocok loh ... pinter iya, cakep iya uuuu." Anak yang lain ikut membenarkan.
Mereka tetap memfokuskan pandangannya kepada Aku dan Fajrin. Sikap Fajrin masih sama, tak peduli, ia masih dengan novel yang ia baca atau mungkin pura-pura tidak mendengar ocehan sampah mereka.
Fajrin dengan novelnya, kali ini bukan novel yang pernah aku liat, itu novel baru, tak banyak waktu untuk menyelesaikan novelnya. Fajrin memang suka membaca novel, terlebih jika berbau misteri urban. Aku dan dirinya duduk bersebelahan dengan di skat oleh jalan sehingga untuk melihat ke arah barat saja rasanya membosankan, harus berhadapan dengan muka masam Fajrin.
“Cielah Fajrin sama Icha sama-sama sibuk,” ucap seorang perempuan berbaju ketat namun rapi dengan gincu tipis di bibirnya.
Seluruh penghuni kelas saling berpandangan satu sama lain mencoba merangkai kata untuk diutarakan kepadaku dan Fajrin. Semua terfokuskan hanya pada dua objek dengan celaan yang siap meluncur di mulut penggosip yang siap meramaikan suasana. Dialah yang duduk di atas meja dengan kaki di gerak-gerakkan, sumber keghibahan berasal.
"Habis putus langsung musuhan, heran deh sama anak sekarang," jawab perempuan yang muka borosnya sangat kelihatan, ia memakai baju yang sengaja di keluarkan.
“Udah lah, kalian akur aja deh. jangan musuhan. Gak baik memutuskan tali silaturrahmi, dosa loh,” sambung anak lainnya diiringi senyum ejekan.
“Iya tuh bener, lebih baik juga mending balikan gih. Kalian cocok loh ... pinter iya, cakep iya uuuu." Anak yang lain ikut membenarkan.
Mereka tetap memfokuskan pandangannya kepada Aku dan Fajrin. Sikap Fajrin masih sama, tak peduli, ia masih dengan novel yang ia baca atau mungkin pura-pura tidak mendengar ocehan sampah mereka.
Aku sebenarnya tak terima dengan ucapan mereka, geram rasanya jika harus terus mendengarnya, ingin menjelaskan ucapan busuknya,namun kau masih bisa menahan suara amukan. Tak mau ada keributan dan perdebatan panjang, sudah semestinya begini jika mempunyai cerita perasaan dengan kelas yang sama dan berakhir tragis.
Aku melihat ke arah Fajrin lagi, tanpa aku sadari, mata kami saling bertemu, masih dengan tatapan yang sama darinya. Fajris menoleh ke arahku sekilas dan berpaling kembali membaca novelnya, terdengar ia mengucapkan sesuatu namun tak bisa aku dengar. Bukan, bukan sedang membaca novel, aku yakin bukan itu. Sepertinya ia bergumam sesuatu namun aku tidak bisa mendengar karena dia seperti berbisik. Adaa keangkuhan yang aku rasakan darinya tadi, mengerutkan alis dengan muka yang masam.
Pelajaran Bu Ita sudah berakhir 5 menit yang lalu,akan diganti dengan Pak Taufiq pengajar Prakarya yang kerab membagikan kelompok. Dan benar saja,aku kembali berkelompok dengan Fajrin.dapat di tebak, penghuni kelas akan bersorak ria sebab aku berkelompok dengan Fajrin.
Tak suka rasanya jika terus seperti ini, rasanya ingin berteriak sekelasnya agar mereka berhenti dengan dandanannya itu.
Jumlah kelompok berjumlah 5 orang,kini aku bersebelahan dengan Fajrin,sangat dekat.aku tak mempermasalahkan itu,karna jumlah kursi yang kurang,sehingga ia berdempetan denganku.kami membagi tugas, semua membuat sketsa yang nantinya akan di setorkan kepada pak Taufiq untuk di jadikan acuan kerajinan.
Sepulang sekolah aku berniat untuk mampir ke supermarket membeli Parfume melon kesukaanku,di rumah sudah habis sejak 2 hari yang lalu. Aku mendatangi Supermarket sekitar 300 km dari sekolah,tiba di sana banyak pernak pernik dan pastel bertemakan Coklat dengan di lapisi pita cantik.
Aku melihat ke arah Fajrin lagi, tanpa aku sadari, mata kami saling bertemu, masih dengan tatapan yang sama darinya. Fajris menoleh ke arahku sekilas dan berpaling kembali membaca novelnya, terdengar ia mengucapkan sesuatu namun tak bisa aku dengar. Bukan, bukan sedang membaca novel, aku yakin bukan itu. Sepertinya ia bergumam sesuatu namun aku tidak bisa mendengar karena dia seperti berbisik. Adaa keangkuhan yang aku rasakan darinya tadi, mengerutkan alis dengan muka yang masam.
Pelajaran Bu Ita sudah berakhir 5 menit yang lalu,akan diganti dengan Pak Taufiq pengajar Prakarya yang kerab membagikan kelompok. Dan benar saja,aku kembali berkelompok dengan Fajrin.dapat di tebak, penghuni kelas akan bersorak ria sebab aku berkelompok dengan Fajrin.
Tak suka rasanya jika terus seperti ini, rasanya ingin berteriak sekelasnya agar mereka berhenti dengan dandanannya itu.
Jumlah kelompok berjumlah 5 orang,kini aku bersebelahan dengan Fajrin,sangat dekat.aku tak mempermasalahkan itu,karna jumlah kursi yang kurang,sehingga ia berdempetan denganku.kami membagi tugas, semua membuat sketsa yang nantinya akan di setorkan kepada pak Taufiq untuk di jadikan acuan kerajinan.
Sepulang sekolah aku berniat untuk mampir ke supermarket membeli Parfume melon kesukaanku,di rumah sudah habis sejak 2 hari yang lalu. Aku mendatangi Supermarket sekitar 300 km dari sekolah,tiba di sana banyak pernak pernik dan pastel bertemakan Coklat dengan di lapisi pita cantik.
Terlihat di depan Rak terpangpang nama bertuliskan ‘Happy Valentine Day’ Kebanyakan yang membelinya seorang pria muda seusiaku.ia menenteng banyak coklat di keranjangnya menunju kasir. Pikiranku tiba-tiba mengarah pada Fajrin “ ah andai saja aku tak berpisah dengan Fajrin,mungkin 3 hari lagi akan merayakan Hari kasih sayang ini” namun aku sadar,tak perlu berkhayal sebegitu tinggi kepadanya,itu mustahil untuk nyata. Aku berpaling meninggalkan Tumpukan Coklat itu,dan pergi ke arah lorong parfume yang biasa aku beli.
14 Februari adalah Hari Valentine,hari kasih sayang.tanggal 25 maret mendatang aku akan merayakan aniversary bersama Fajrin,kami sudah genap 1 tahun berpacaran. Jika tidak putus semua acara itu akan kami rayakan.andai,andai dan andai,aku tak bisa berbohong kepada hati kecilku ini,aku belum bisa melupakan Fajrin.mungkin jika lulus Sekolah nanti aku pasti bisa melupakannya dan tak akan pernah memikirkannya,semoga saja.
Hari ini tibalah hari Valentine,semua nampak gembira.terlihat di depan kelas pasangan saling berpegangan tangan,berpandang satu sama lain seperti sedang memanaskan suasana hatiku saja, si cowok menyerahkan sebuah batang coklat,dan tentunya mereka tersenyum bahagia.
"Icha,kenapa bengong?” sapa Niken salah seorang teman kelas sebelah.
Ia mendapatiku tengah berada di depan pintu melihat sepasang manusia bercumbu mesra dengan gelak tawanya.
“ Gak papa,lagi jam kosong nih males aja di kelas,jadi ya di luar aja” ucapku berbohong,tak ingin di jadikan narasumber atas pertanyaannya yang nantinya berakar-akar.
"Oh,mata pelajarannya pak Basri?pak Basri udah lama gak masuk,Istrinya sakit “ ia menjelaskan.
"Semoga cepat sembuh,ia pasti sangat sedih." kepalaku menggangguk setuju.
Tiba-tiba datang Guru pengajar XII MIPA 2 sebelah denganku,lebih tepatnya kelas Niken.
"Eh Cha,duluan ya” ia masuk kelas dengan tergesa-gesa.
"Cha..woy!” sapa seseorang di belakangku,tangannya yang besar menepuk pundak berhasil membuatku terkejut dan menoleh kebelakang .
“Apa sih,Ra? Ngagetin aja” aku mengusap pundakku karna tepukan dari Rara terasa sakit.
"Eh maaf ya sakit ya,Cha?” jawabnya ikut mengusap-ngusap pundakku.
“Nggak, lagian kamu ngapain pakek ngagetin orang? “ aku kembali bertanya.
"Aku dari dalam liat kamu bengong aja kayak patung, kasian liatnya haha lagi liatin itu ya? “ tawanya meledak saat di depan mata ada sepasang manusia bercumbu dengan mesranya.
"Ya kali kamu cari kesibukan biar bisa move on, liat tuh si Fajrin daritadi baca novel aja kerjaannya,” lanjutnya lagi sembari melipat tangannya.
“UDAH MOVE ON !” bentakku kasar tak suka rasanya jika ia menyebut nama Itu aku menoleh ke belakang memastikan Fajrin mendengar ucapanku tadi namun ia tetap saja dengan novelnya.
“Dari pada kamu bengong, mending traktir aku makan bakso. Lumayan kan kantin barat lagi ada diskon” dia membujuk di pegangnya perut secara memutar.
“Dih, diskon apaan? Khayal kamu! Kalo laper beli sendiri aja sana!” jawabku berbalik badan dan masuk kelas.
Aku pulang sekolah Di jemput oleh Kak Clara,ia memaksaku untuk mau di jemput olehnya. Aku sudah berulang kali menolaknya namun tetap saja dipaksa, bukan apa-apa, aku tak ingin merepotkannya.
“Ikut beli coklat ya dek ya” ucapnya di dalam perjalanan menyisipkan senyum di bibirnya.
Sebelum pulang menuju rumah,Kak Clara mengajakku membeli Coklat,tentunya untuk pacarnya.kado berbentuk Hati dengan pita kecil di setiap lilitan sudah di pegangnya,selanjutnya berlanjut membeli sebatang coklat.
14 Februari adalah Hari Valentine,hari kasih sayang.tanggal 25 maret mendatang aku akan merayakan aniversary bersama Fajrin,kami sudah genap 1 tahun berpacaran. Jika tidak putus semua acara itu akan kami rayakan.andai,andai dan andai,aku tak bisa berbohong kepada hati kecilku ini,aku belum bisa melupakan Fajrin.mungkin jika lulus Sekolah nanti aku pasti bisa melupakannya dan tak akan pernah memikirkannya,semoga saja.
Hari ini tibalah hari Valentine,semua nampak gembira.terlihat di depan kelas pasangan saling berpegangan tangan,berpandang satu sama lain seperti sedang memanaskan suasana hatiku saja, si cowok menyerahkan sebuah batang coklat,dan tentunya mereka tersenyum bahagia.
"Icha,kenapa bengong?” sapa Niken salah seorang teman kelas sebelah.
Ia mendapatiku tengah berada di depan pintu melihat sepasang manusia bercumbu mesra dengan gelak tawanya.
“ Gak papa,lagi jam kosong nih males aja di kelas,jadi ya di luar aja” ucapku berbohong,tak ingin di jadikan narasumber atas pertanyaannya yang nantinya berakar-akar.
"Oh,mata pelajarannya pak Basri?pak Basri udah lama gak masuk,Istrinya sakit “ ia menjelaskan.
"Semoga cepat sembuh,ia pasti sangat sedih." kepalaku menggangguk setuju.
Tiba-tiba datang Guru pengajar XII MIPA 2 sebelah denganku,lebih tepatnya kelas Niken.
"Eh Cha,duluan ya” ia masuk kelas dengan tergesa-gesa.
"Cha..woy!” sapa seseorang di belakangku,tangannya yang besar menepuk pundak berhasil membuatku terkejut dan menoleh kebelakang .
“Apa sih,Ra? Ngagetin aja” aku mengusap pundakku karna tepukan dari Rara terasa sakit.
"Eh maaf ya sakit ya,Cha?” jawabnya ikut mengusap-ngusap pundakku.
“Nggak, lagian kamu ngapain pakek ngagetin orang? “ aku kembali bertanya.
"Aku dari dalam liat kamu bengong aja kayak patung, kasian liatnya haha lagi liatin itu ya? “ tawanya meledak saat di depan mata ada sepasang manusia bercumbu dengan mesranya.
"Ya kali kamu cari kesibukan biar bisa move on, liat tuh si Fajrin daritadi baca novel aja kerjaannya,” lanjutnya lagi sembari melipat tangannya.
“UDAH MOVE ON !” bentakku kasar tak suka rasanya jika ia menyebut nama Itu aku menoleh ke belakang memastikan Fajrin mendengar ucapanku tadi namun ia tetap saja dengan novelnya.
“Dari pada kamu bengong, mending traktir aku makan bakso. Lumayan kan kantin barat lagi ada diskon” dia membujuk di pegangnya perut secara memutar.
“Dih, diskon apaan? Khayal kamu! Kalo laper beli sendiri aja sana!” jawabku berbalik badan dan masuk kelas.
Aku pulang sekolah Di jemput oleh Kak Clara,ia memaksaku untuk mau di jemput olehnya. Aku sudah berulang kali menolaknya namun tetap saja dipaksa, bukan apa-apa, aku tak ingin merepotkannya.
“Ikut beli coklat ya dek ya” ucapnya di dalam perjalanan menyisipkan senyum di bibirnya.
Sebelum pulang menuju rumah,Kak Clara mengajakku membeli Coklat,tentunya untuk pacarnya.kado berbentuk Hati dengan pita kecil di setiap lilitan sudah di pegangnya,selanjutnya berlanjut membeli sebatang coklat.
Jika hari valentine di maknai dengan pemberian coklat kepada perempuannya,lain halnya dengan Kak Clara.bertukar kado,memberikan coklat kepada sang pria.ia tau bahwa si pria akan memberikannya coklat juga.
Hari mulai gelap,rasanya puas berkeliling kota hari ini.Jus mangga sudah lenyap semenit yang lalu dengan Ramen pedas kesukaanku. Aku suka pedas,terlebih jika mengundang tangis dan bahkan menyengat tenggorokan.
“Udah dek,jangan nambah lagi.mukanya tuh merah”kak Clara mulai panik namun di sisipkan senyum ejekan di bibirnya.
Aku tak menjawab, belum Waktunya jika berbicara pada saat mulut mengunyah Ramen dan Lidah yang sedang terbakar dengan cabe.kak Clara hanya menggeleng heran melihat banyak keringat berjatuhan di jidatku.
“Kamu udah makan berapa piring sih dek? Gini ya kalo punya masalah, pelampiasannya ke makanan ” Kak Clara menebak asal.
Segera mungkin aku mengambil Air putih yang tergeletak di depan mata, masih terisi penuh. Aku meneguknya dan seketika tenggorokan terasa dingin, kebakaran di mulut sudah reda. Tapi tidak dengan perut, mungkin nanti aku akan berada di toilet seberapa mungkin lamanya.
“Tebakan kakak salah,” ucapku singkat. Ia menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arahku
“Aku gak ada masalah apa-apa, “ ucapku lagi dengan dahi mengkerut
“Yakin nih?” Kak Clara memasang muka penasarannya.
Aku tak berani menatapnya, ”Jangan- jangan kak Clara sudah tau jika aku sudah putus dengan Fajrin dan itu masalahnya.ah,itu tak mungkin jika ia tau” aku bergumam dalam hati.
Mataku terbelalak melihat Fajrin berada di depan mataku, Kak Clara hanya tersenyum puas. Mungkin ini adalah rencananya.
“Fajrin duduk sini”kak Clara menunjuk ke arah kursi kosong di sampingnya.
"Eh iya, Aku duluan ya ada keperluan ”ia berdiri dari kursinya,
"Selesaikan masalah kalian dengan damai dan kau Fajrin, antarkan Icha pulang ya," lanjutnya lagi dan berpaling pergi meninggalkanku dengan Fajrin.
Hari mulai gelap,rasanya puas berkeliling kota hari ini.Jus mangga sudah lenyap semenit yang lalu dengan Ramen pedas kesukaanku. Aku suka pedas,terlebih jika mengundang tangis dan bahkan menyengat tenggorokan.
“Udah dek,jangan nambah lagi.mukanya tuh merah”kak Clara mulai panik namun di sisipkan senyum ejekan di bibirnya.
Aku tak menjawab, belum Waktunya jika berbicara pada saat mulut mengunyah Ramen dan Lidah yang sedang terbakar dengan cabe.kak Clara hanya menggeleng heran melihat banyak keringat berjatuhan di jidatku.
“Kamu udah makan berapa piring sih dek? Gini ya kalo punya masalah, pelampiasannya ke makanan ” Kak Clara menebak asal.
Segera mungkin aku mengambil Air putih yang tergeletak di depan mata, masih terisi penuh. Aku meneguknya dan seketika tenggorokan terasa dingin, kebakaran di mulut sudah reda. Tapi tidak dengan perut, mungkin nanti aku akan berada di toilet seberapa mungkin lamanya.
“Tebakan kakak salah,” ucapku singkat. Ia menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arahku
“Aku gak ada masalah apa-apa, “ ucapku lagi dengan dahi mengkerut
“Yakin nih?” Kak Clara memasang muka penasarannya.
Aku tak berani menatapnya, ”Jangan- jangan kak Clara sudah tau jika aku sudah putus dengan Fajrin dan itu masalahnya.ah,itu tak mungkin jika ia tau” aku bergumam dalam hati.
Mataku terbelalak melihat Fajrin berada di depan mataku, Kak Clara hanya tersenyum puas. Mungkin ini adalah rencananya.
“Fajrin duduk sini”kak Clara menunjuk ke arah kursi kosong di sampingnya.
"Eh iya, Aku duluan ya ada keperluan ”ia berdiri dari kursinya,
"Selesaikan masalah kalian dengan damai dan kau Fajrin, antarkan Icha pulang ya," lanjutnya lagi dan berpaling pergi meninggalkanku dengan Fajrin.
Bibirku masih memerah mungkin karna Ramen yang aku makan ini. Tak banyak Ramen yang aku makan hanya 2 piring saja. Itu pun sudah kutegguk segelas air putih. Namun tetap saja rasa pedas masih tersisa di lidah.
"Masih pedes ya?”sapa Fajrin memulai perbincangan
"Nggak”,ucapku sambil menahan pedas di lidah.
Tak bisa berbohong, raut wajah ku masih saja memerah dengan keringat melapisi jidat lebarku.sudah dapat di pastikan Fajrin mengetahui jika lidahku sedang terbakar karna ulah Ramen.
“Udah deh Cha, gak usah bohong. Aku tau kalo kamu itu masih kepedesan kan?”Fajrin mulai meledekku seraya memanggil pelayan untuk memesan 2 jus Mangga kesukaanku.
“Kamu bisa diam gak? Gak usah ngeyel gitu deh.“ aku terganggu dengan ejekan itu rasa pedas di lidah beriringan mulai merasuki ucapanku secara bersamaan.
Fajrin tak menjawab hanya tersenyum, di lipatnya kedua tangannya di meja dan menatapku yang sedang terbakar ramen.
“Lagian ngapain sih kamu kesini?”aku mulai jengkel dengan kehadirannya.
“Dih, emang gak boleh aku kesini?Aku kesini Cuma mau ..... “ ucapannya terpotong saat aku menoleh ke arahnya,seperti menyimpan sesuatu yang berat untuk di ucapkan.
“Mau apa? Mau ribut, mau debat lagi masalah Renal?” jawabku dengan cepat melototkan kedua mataku karna tak tahan dengan tatapan Fajrin.
“Cha, Kamu kenapa sih? kayak benci banget sama aku?”matanya berkaca-kaca seperti ingin mengungkapkan sesuatu dengan serius.
“Aku minta maaf ya kalo ada salah” ia Masih menatapku, tangannya mulai menggenggam tanganku.
Seperti mengalihkan pembicaraan, alih-alih Fajrin bertanya seputar masalah yang sedang aku pikirkan tentangnya selama ini. Namun aku tak langsung menerima maafnya, sakit sekali jika mengingat perlakuannya.
“Salah kamu itu banyak Fajrin, gak mempan Cuma dengan kata maaf” aku kembali meminum Jus Mangga yang masih tersisa.
“Ya aku harus gimana dong, aku bener-bener minta maaf.Tuhan aja maha pemaaf, masa hambanya pendendam. “ Fajrin mulai menenangkan keadaan
“yaudah deh," jawabku asal.
Seorang pelayan datang membawa dua gelas jus Mangga pesanan Fajrin, ia rupanya masih ingat minuman yang aku suka.
"Tugas prakarya udah nggak? Aku belum nih" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Tugas prakarya? bukannya udah di kumpulin, udah di nilai juga," jawabku heran.
"Udah deh jujur aja, gak usah basa-basi nyari topik pembicaraan gak penting! Mau apa kamu kesini?ha?!" Aku mulai geram namun tetap meminum jus mangga yang di pesan fajrin, tak aku pikirkan siapa yang memesan yang terpenting tenggorokanku merasakan dingin.
"E Cha, kamu tau gak? aku itu suka...”ia memotong ucapannya sengaja membuatku penasaran
"Suka apa?”aku mulai bingung dengan pertanyaannya.
“Mmm suka....” Ia memotong ucapannya lagi.
“suka coklat,nih buat kamu” Fajrin mengeluarkan coklat di Sakunya dan memberikannya padaku
“dih kirain apa”ucapku jengkel.
“Aku juga suka kamu.”mata Fajrin menatap sekilas.
“Ngomong aja di banyakin” ucapku dengan tawa ledakan
“Udah deh Tuan Fajrin yang terhormat, tak perlu sibuk untuk membuat gombalan. Aku tak akan luluh,” lanjutku lagi dengan tawaku yang semakin meledak.
Fajrin mengangguk setuju sembari memusatkan pandangannya padaku, "Happy Valentine day,Cha” Fajrin tersenyum dan memberikan coklat berbentuk Hati.
“Oh Makasih, bisa aja kamu coklat jadi bahan penenang, biar apa? biar bisa baikan? Begok aku nerima kamu lagi," ucapku tegas mengeluarkan kebencianku padanya.
“Maaf ya,udah buat kamu sedih dan benci. Sebenarnya aku masih sayang, meskipun sudah gak ada hubungan apa-apa. Aku gak bisa ngelanjutin hubungan ini.aku mau fokus sekolah, kamu kan tau sendiri kelas 3 akan ada musim ujian.” Fajrin menuangkan pikirannya menjelaskan secara detail apa yang ingin di utarakan selama ini.
Sejak saat itu, Fajrin berteman akrab denganku .bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi negeri. Namun sayang, kami tidak bisa satu sekolah lagi. Fajrin kuliah di politeknik dengan Jurusan Rekam medik. Meskipun begitu ia tetap meluangkan waktunya untuk bertukar kabar denganku.
omong kosong kalau bisa lupa semua tentang dia,Move on itu bukan berhasil melupakan tapi berhasil saat mengingat dia tidak ada rasa sedih